Baru sebulan menikah, bunuh diri…dengan cara makan pupuk”Tragis”

Betapa pendeknya akal seseorang hanya karena hal sepele begitu mudahnya seseorang bunuh diri.
Inilah yang terjadi pada seorang wanita yang baru sebulan menikah yang bunuh diri dengan cara memakan pupuk tanaman.
Ini beritanya..

Metrotvnews.com, Bantul: Seorang
perempuan warga Rejosari, Kecamatan
Piyungan, Kabupaten Bantul, Daerah
Istimewa Yogyakarta (DIY), yang baru
sebulan menikah, ditemukan tewas di
rumahnya, Sabtu (8/5). Diduga ia bunuh diri
dengan cara memakan pupuk tanaman.
“Sumarni, 19, diduga bunuh diri dengan
memakan pupuk tanaman sehingga
menyebabkan keracunan,” kata Kapolsek
Piyungan Ajun Komisaris Sudarwan.
Meskipun Sumarni diduga bunuh diri dan
tidak ditemukan tanda-tanda penganiayaan,
kepolisian akan meminta keterangan
suaminya, Pardi, terkait dengan kematian
istrinya.
“Sampai saat ini suami korban belum kami
mintai keterangan karena kondisinya masih
syok. Bahkan beberapa kali pingsan setelah
mengetahui istrinya meninggal karena bunuh
diri,” ujarnya.
Sudarwan mengatakan, Sumarni ditemukan
sudah dalam kondisi meninggal oleh adik
kandungnya sekitar pukul 07.00 WIB.
Adiknya ketika itu merasa curiga karena
kamar kakaknya tidak dibuka. Padahal hari
mulai siang.
“Ketika mencoba melihat kakaknya dari
jendela kamar, adiknya melihat Sumarni
dalam kondisi tergeletak. Adiknya langsung
memberitahukan kepada ayahnya, Wagino,
dan kemudian pintu kamar dibuka paksa,”
kata Kapolsek.
Ia mengatakan, pihak keluarga sudah
mencoba memberikan pertolongan dengan
membawa Sumarni ke rumah sakit. Tetapi ia
meninggal dalam perjalanan.
“Saat diperiksa di kamarnya, keluarga
menemukan sisa pupuk yang biasa
digunakan untuk tanaman, serta surat wasiat
pamitan di sebuah buku,” katanya.
Kapolsek Piyungan mengatakan diduga
Sumarni sedang mengalami masalah dengan
suaminya, Pardi.
“Ini terindikasi dari surat wasiat yang
ditujukan kepada orang yang disayangi, serta
SMS (layanan pesan singkat) yang sempat
dikirimkan ke suaminya,” katanya.
Dalam surat wasiat yang kini dijadikan barang
bukti, Sumarni menulis pesan terakhir yang
intinya permintaan maaf kepada suami,
orangtuanya, serta menitip pesan untuk
merawat neneknya.
“Dalam surat tersebut Sumarni menyebutkan
dirinya tidak sanggup menghadapi cobaan,
dan dirinya mohon pamit,” katanya.
Sedangkan dalam SMS yang dikirimkan ke
suaminya pada malam sebelum kejadian,
Sumarni mempertanyakan mengapa
suaminya tega tidak mengajak dirinya pulang
ke rumah orangtua Sumarni. Jika memang
seperti ini, lebih baik dirinya pergi saja.
“Informasi yang kami peroleh, pada malam
sebelum kejadian Pardi usai pulang kerja,
tidak beberapa lama kemudian pamit pergi ke
rumah orangtua istrinya, tetapi tidak
menyebutkan untuk keperluan apa, dan Pardi
malam itu tidak pulang,” katanya.(Ant/DSY)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: